Monday, December 28, 2009

WAHHABI! WAHHABI! WAHHABI! APA KATA UTHMAN EL-MUHAMMADY DAN APA ULASAN USTAZ RASUL BIN DAHRI




Kerancunan pemahaman Uthman El-Muhammdy dalam memahami antara fiqh asy-Syafie dan mazhab as-Syafie amat ketara setelah para pembaca meneliti isi kandungan buku ini. Kegetiran dan ketidakupayaan Uthman El-Muhammady menghadapi apa yang dituduh sebagai golongan Wahhabi, menjadikan beliau mudah membuat tuduhan bahawa Wahhabi ekstrem. Beliau menyebar fitnah bahawa Fahaman Wahhabi berjaya menggulingkan kerajaan Uthmaniyah dan wajar menjadi peringatan kepada Negara ini.

Uthman El-Muhammady serkap jarang, belum meneliti sejarah Hijaz secara fakta ilmiyah dan masih gelap sejarah terutamanya yang berkaitan dengan sejarah Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahhab. Semoga beliau diberi hidayah dan petunjuk oleh Allah dan tidak menjadi bahan ketawaan umat kemudian hari kerana kesilapannya menuduh sembarangan tentang Wahhabi. Buku kecil ini berupa bidasan terhadap kenyataan Uthman El-Muhammady di dalam akhbar Berita Minggu Ahad 22 November 2009.

diambil dari

Saturday, December 26, 2009

SEORANG PENYANYI YANG BERTAUBAT DI TANGAN IBNU MAS’UD

Oleh Syaikh Abdul Aziz  Abdul Latif

Sesungguhnya berdakwah kepada Allah adalah tugas para nabi (semoga kesejahteraan dilimpahkan atas mereka), dan jalan para ulama rabbaniyyin, oleh kerana itu berdakwah kepada Allah adalah sebuah amal pendekatan diri kepada Allah yang paling utama, dan paling agung kedudukannya.
Allah berfirman.
“Ertinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang soleh dan berkata : “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”[Fushilat : 33]
Dan berdakwah kepada Allah itu, harus benar tujuannya, bersih manhajnya (caranya), inilah jalan dakwah nabi kita Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam dan siapa saja yang mengikuti beliau Sallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik, sebagaimana firman Allah.
“Ertinya : Katakanlah : Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik” [Yusuf : 108]
Sungguh para Salafus Soleh kita (semoga Allah merahmati mereka) menempuh jalan ini, mereka menyuruh kebaikan, mencegah kemungkaran dan mengajarkan manusia kebaikan, menyampaikan sejelas-jelasnya melalui berbagai cara, seperti pengajaran, harta, nasihat, fatwa, hukum dan selainnya.
Dan sungguh Salafus Soleh telah menegakkan dakwah ini untuk mengharapkan wajah Allah, mereka tidak menginginkan dari manusia balasan dan tidak pula ucapan terima kasih, dan disaat itu juga mereka menetapi keselamatan manhaj dengan mengikuti dan meninggalkan perbuatan bid’ah.
Kebangkitan Islam saat ini memerlukan pengetahuan pada contoh-contoh perbuatan dan fenomena yang nyata dari dakwah Salafus Soleh : agar keadaan-keadaan mereka itu menjadi pendorong serta pemberi semangat untuk mencontoh mereka, dan berjalan diatas uslub (metode) mereka.
Salah seorang ulama berkata : “Barangsiapa melihat sejarah Salafus Soleh pasti ia mengetahui kekurangannya, dan ketertinggalannya dari derajat seorang manusia”.
Dan makalah ini berisikan fenomena-fenomena dakwah dari kehidupan Salafus Soleh, kami akan memaparkannya sebagaimana yang berikut ini.
“Adalah seorang pemuda yang bernama Dzaadzan seorang peminum khamr (minuman keras), dan ia penabuh gendang, lalu Allah memberinya rezeki berupa taubat ditangan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu maka menjadilah Dzaadzan termasuk orang-orang yang terbaik dari kalangan tabi’in, dan salah seorang ulama yang terkemuka, dan termasuk orang-orang yang masyhur dari kalangan hamba Allah ahli zuhud” [Lihat biografinya dalam Hilyatul Aulia 4/199, dan Bidayah wan Nihayah 9/74 dan Siyar ‘Alamun Nubala 4/280]
Inilah kisah taubatnya, sebagaimana Dzaadzan meriwayatkannya sendiri, ia berkata :
“Saya adalah seorang pemuda yang bersuara merdu, pandai memukul gendang, ketika saya bersama teman-teman sedang minum minuman keras, lewatlah Ibnu Mas’ud, maka ia pun memasuki (tempat kami), kemudian ia pukul tempat (yang berisikan minuman keras) dan membuangnya, dan ia pecahkan gendang (kami), lalu ia (Ibnu Mas’ud  berkata : “Kalaulah yang terdengar dari suaramu yang bagus adalah Al-Qur’an maka engkau adalah engkau… engkau”.
Setelah itu pergilah Ibnu Mas’ud. Maka aku bertanya kepada temanku : “Siapa orang ini ?” mereka berkata : “Ini adalah Abdullah bin Mas’ud (sahabat Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam)”.
Maka dengan kejadian itu (dimasukkan) dalam jiwaku perasaan taubat. Setelah itu aku berusaha mengejar Abdullah bin Mas’ud sambil menangis, (setelah mendapatinya) aku tarik baju Abdullah bin Mas’ud.
Maka Ibnu Mas’ud pun menghadap kearahku dan memelukku menangis. Dan ia berkata : “Marhaban (selamat datang) orang yang Allah mencintainya”. Duduklah! lalu Ibnu Mas’ud pun masuk dan menghidangkan kurma untukku [Siyar ‘Alamun Nubala 4/28]
Kita dapat mengambil pelajaran dari kisah diatas, bahwa kita mengetahui kejujuran Abdullah bin Mas’ud dan niatnya yang baik, serta tujuannya yang benar dalam berdakwah kepada Dzaadzan yang menyebabkannya mendapat petunjuk dan bertaubat, sebagaimana dikatakan Abdul Qadir Jailani (561H) semoga Allah merahmati beliau, mengomentari kisah tersebut :
“Lihatlah berkahnya kejujuran (kebenaran), ketaatan dan niat baik, bagaimana Allah memberi petunjuk Dzaadzan melalui Abdullah bin Mas’ud dikeranakan kejujuran dan tujuan baiknya, maka seorang yang rosak (perangai dan ahlaknya) tidak akan dapat engkau perbaiki hingga engkau sendiri menjadi seorang soleh (baik) dalam dirimu, takut kepada Rabbmu jika engkau bersendirian, ikhlas kepadaNya jika engkau bergaul dengan mahluk dengan tanpa berbuat riya’ dalam tindakan dan tingkahmu, meng-Esakan Allah dalam seluruh hal ini, dan ketika engkau ditambah petunjuk dan bimbingan oleh Allah, engkau menjaga dirimu dari hawa nafsu dan dari penyelewangannya oleh syaitan dari kalangan jin dan manusia, dan (engkau jaga dirimu) dari seluruh kemungkaran, kefasikan, bid’ah dan seluruh kesesatan, maka akan dihilangkan darimu kemungkaran dengan tanpa terbebani, sebagaimana hal ini terjadi pada zaman kita ini, seseorang mengingkari satu kemungkaran namun terjerumus dalam banyak kemungkaran, dan kerusakan yang besar ….” [Al-Ghunyah 1/139-140]
Dan perkara lain yang kita ambil faedah dari kisah diatas bahwasanya Ibnu Mas’ud telah menempuh cara yang “syar’iyyah” (cara yang sesuai dengan agama) yang paling utama dalam merubah kemungkaran, tatkala ia mampu merubah kemungkaran dengan tangannya, maka iapun merubah kemungkaran dengan tangannya, ia pecahkan gendang dan ia hancurkan bejana minuman keras.
Sungguh pada diri Abdullah bin Mas’ud terdapat permisalan yang mengagumkan dalam keberanian dan maju membela kebenaran, serta dalam merubah kemungkaran. Ia tidak takut celaan orang yang suka mencela, padahal ia sendirian dan orang yang dilarang dari kemungkaran lebih dari satu, sebagaimana nampak dalam konteks cerita. Ditambah lagi padahal Abdullah bin Mas’ud adalah seorang yang pendek dan kurus (semoga Allah meredhai beliau).
Akan tetapi kerana Abdullah bin Mas’ud adalah seorang yang mengagungkan hukum-hukum dan syiar-syiar Allah, maka hal ini mewariskan sikap penghormatan dan pengagungan, dan sungguh benarlah Amr bin Abdul Qais ketika ia berkata : “Barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu takut kepadanya, dan barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka Allah akan menjadikannya takut terhadap segala sesuatu” [Sifatus Sofwah 3/208]
Dan dengan perbuatan Abdullah bin Mas’ud yang merubah kemungkaran dengan tangannya, kita akan mendapati seberapa besar belas kasih darinya dan seberapa besar kesempurnaan kelembutan dan nasehatnya kepada Dzaadzan. Karena tatkala Dzaadzan mendatanginya dalam keadaan bertaubat, iapun menghadapi dan memeluk Dzaadzan, lalu menangis lantaran gembira dengan taubat Dzaadzan. Dan Abdullah bin Mas’ud menghormatinya dengan ungkapan yang paling indah : “Selamat datang orang yang dicintai Allah”.
Sebagaimana firman Allah.
“Artinya : Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” [Al-Baqarah : 222]
Bukan itu saja, bahkan Ibnu Mas’ud mempersilahkannya duduk dan mendekatkannya, dan menghidangkan kurma untuknya.
Demikianlah, ahli sunnah mengetahui kebenaran dan berdakwah kepada kebenaran, ahli sunnah sayang terhadap mahluk dan menasehati mereka.
Sebagaimana kita lihat dari kisah tadi bagaimana cerdas dan pintarnya Abdullah bin Mas’ud [Berkata Imam Dzahabi : Sesungguhnya Ibnu Mas’ud dianggap ulama yang cerdas, Lihat Siyar ‘Alamun Nubala 1/462] Lihatlah bagaimana Dzaadzan bertaubat. Karena sesungguhnya Dzaadzan adalah seorang penyanyi yang bagus suaranya, maka berkatalah Ibnu Mas’ud kepadanya : “Kalaulah yang terdengar dari suaramu yang bagus adalah Al-Qur’an maka engkau adalah engkau…engkau”. Dalam riwayat lain Ibnu Mas’ud berkata : “Alangkah bagusnya suara ini ! kalau seandainya ia membaca Al-Qur’an tentullah lebih baik”.
Sesungguhnya pengarahan yang lurus terdapat pada persiapan-persiapan dan kemampuan-kemampuan, dan meletakkannya pada tempatnya sesuai dengan syari’at ditambah lagi dengan memperhatikan tabiat jiwa manusia. Dan pengetahuan terhadap perasaannnya adalah penopang yang penting untuk kesuksesan dakwah, karena sesungguhnya jiwa itu tidak akan meninggalkan sesuatu melainkan diganti dengan sesuatu yang lain, maka haruslah memperhatikan pengganti yang sesuai dan inilah yang difahami oleh Abdullah bin Mas’ud dan terlewatkan pemahaman ini oleh banyak manusia lainnya.
Ibnu Taimiyah berkata : “Agama Islam menyuruh kebaikan dan melarang kemungkaran, tidak akan tegak salah satunya melainkan dengan lainnya, maka janganlah seseorang melarang kemungkaran kecuali hendaknya ia juga menyuruh kebaikan dan menyingkirkan kemungakaran, sebagaimana ia menyuruh beribadah kepada Allah dan juga melarang dari beribadah kepada Allah dan juga melarang beribadah kepada selainNya, dimana perkara tertinggi adalah bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan jiwa itu diciptakan untuk beramal, bukan untuk meningalkan, dan hanyalah meninggalkan itu tujuan lainnya” [Iqtidho Sirotol Mustaqim 2/617]
Inilah fenomena yang mulia dari dakwah Salafus Soleh, dan dalam kitab-kitab yang menjelaskan biografi Salafus Soleh banyak dijumpai kisah-kisah yang indah (dalam kehidupan mereka), barangsiapa ingin mengambil contoh maka hendaklah mengambil contoh orang yang sudah meninggal dunia (para sahabat nabi), karena orang yang masih hidup tidak aman darinya fitnah.
[Majalah Ad-Dakwah Edisi 1863]
[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 09/Th.II /2004M/1424H. Terjemahan Dari Majalah Ad-Dakwah Edisi 1863. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Jl. Sultan Iskandar Muda 46 Surabaya]
Sumber: http://www.almanhaj.or.id/content/1944/slash/0
Diterjemahkan kepada Bahasa Malaysia dari Bahasa Indonesia.

Tuesday, December 22, 2009

MEMORANDUM 11 PERKARA

MEMORANDUM 11 PERKARA PERSATUAN AL-ISLAH PERLIS


TERHADAP LAPORAN POLIS OLEH DEWAN PEMUDA PAS PERLIS


KE ATAS USTAZ MOHD ASRIE SOBRIE PADA 22 OGOS 2009

Pada hari isnin 17 Ogos 2009 lalu, Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Perlis telah mengundang seorang pendakwah Ahlis Sunnah iaitu Ustaz Mohd Asrie Sobrie untuk berceramah di Masjid Alwi Kangar. Selanjutnya pada 22 Ogos 2009 pula, Dewan Pemuda Parti PAS Perlis telah membuat laporan polis di Ibu Pejabat Polis Daerah (IPD) Kangar atas dakwaan ‘kekeliruan’ dan ‘penghinaan’ pendakwah tersebut.

Apabila terjadinya insiden laporan polis ini, Persatuan Al-Islah Perlis merasa terpanggil untuk menjelaskan pendirian persatuan berhubung dengan insiden ini. Daripada penelitian awal Persatuan Al-Islah Perlis, adalah amat dikesalkan tindakan yang terburu-buru ini sesungguhnya telah secara halus membelakangkan hakikat sejarah, adat-istiadat dan perjuangan Umat Melayu Islam Negeri Perlis di mana teras-terasnya telah dikanunkan dalam Undang-undang Tubuh Negeri Perlis sebagai perlembagaan negeri. Sebahagian teras yang tidak dapat diganggu gugat lagi itu ialah:

- Ketuanan Dinasti Jamalullail sebagai Raja Melayu Islam yang

berkuasa mutlak dalam hal ehwal Agama Islam, serta

- Ahlis Sunnah Wal Jama’ah sebagai tunjang aspek teori dan

praktikal dalam akidah, syariah, akhlak dan segala urusan

berkenaan Agama Islam dalam negeri ini.

Oleh yang demikian Persatuan Al-Islah Perlis mempersembahkan Memorandum 11 Perkara ke bawah Duli Yang Teramat Mulia Tuanku Yang Dipertua Majlis Agama Islam Dan Adat Istiadat Melayu Perlis (MAIPs) sebagaimana yang berikut:

1 Menyeru semua pihak untuk bertenang, bersabar dan menghormati apa sahaja keputusan DYMM Tuanku Raja Perlis dan DYTM Tuanku Raja Muda Perlis yang bakal dititahkan, serta nasihat Sahibus Samahah Mufti Kerajaan Negeri Perlis selaku pakar rujuk yang diamanahkan oleh baginda berdua, mengenai insiden ini dan sebarang persoalan yang berbangkit tentangnya.

2 Menegaskan kedudukan istimewa Ahlis Sunnah wal Jama’ah Al-Salafiyyah selaku elemen penting Undang-undang Tubuh Negeri Perlis. Jika dasar ini diganggu gugat ia mampu menimbulkan pelbagai kesan negatif terhadap kemerdekaan Perlis sebagai negeri berdaulat dalam Persekutuan Malaysia, terhadap urustadbir hal ehwal Islam di Perlis khususnya dan kepada kesejahteraan umat Islam Perlis umumnya. Oleh itu, formula sedia ada dan sudah terbukti mengekalkan kesejahteraan bersama ini sepatutnya dipertegaskan dan diterima oleh semua pihak, Islam dan bukan Islam, Ahlis Sunnah mahupun bukan Ahlis Sunnah.

3 Memohon kuasa-kuasa budi bicara DYMM Tuanku Raja Perlis khasnya dalam urusan hal ehwal Islam dapat dipertahan dan diperkukuhkan dengan segala pendekatan yang mungkin.

4 Memohon supaya semua peruntukan Undang-undang Tubuh Negeri Perlis, enakmen-enakmen Negeri Perlis berhubung dengan urusan keislaman dan segala prosedur yang digunapakai dapat diperteguhkan, khususnya bagi menutup segala ruang menggunakan saluran mahkamah bagi melemahkan Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama’ah Al-Salafiyyah.

5 Mengingatkan mana-mana supaya pihak tidak menyalahgunakan prosedur laporan polis dan proses mahkamah untuk mempersenda, menandingi dan memperlekehkan kuasa mutlak DYMM Tuanku Raja Perlis dan institusi diraja dalam hal ehwal Agama Islam di Perlis. Sesungguhnya Persatuan Al-Islah Perlis amat khuatir insiden ini akan dimanipulasikan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dalam mengambil kesempatan serta memperalatkan perbezaan dan konflik yang kononnya timbul antara kuasa DYMM Tuanku Raja dengan kuasa polis

6 Menginsafi bahawa yang tersirat dalam laporan polis adalah langkah awal membawa insiden ini ke mahkamah dalam suatu ‘pelan induk’ percubaan menghakis dan merombak kedudukan Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama’ah Al-Salafiyyah yang termaktub dalam Undang-undang Tubuh Negeri Perlis dan sistem perundangan Islam di Perlis. Di samping itu, ada pula usaha-usaha pihak tertentu untuk menyamatarafkan status Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama’ah Al-Salafiyyah dengan aliran-aliran lain di Malaysia dengan cara memberi penafsiran Ahlis Sunnah melalui pandangan mereka sendiri. Persatuan Al-Islah Perlis merenung dalam-dalam bahawa semua rentetan peristiwa ini sebagai pakej usaha-usaha agresif yang bersifat ofensif terhadap survival manhaj ini

7 Menyeru agar sebarang ketidakpuasan hati berkenaan Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama’ah Al-Salafiyyah hendaklah dibawa ke meja perundingan ilmiah berasaskan Al-Qur’an dan Al-Sunnah dengan pihak-pihak yang berautoriti. Pendekatan konfrantasi menerusi laporan polis dan ’perang’ di kamar mahkamah hanya akan memancing ketegangan dan mengancam ketenteraman masyarakat, serta menjejaskan keharmonian Negeri Perlis yang tercinta ini

8 Menggesa supaya jangan ada tekanan atau gangguan daripada mana-mana pihak berhubung Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah Al-Salafiyyah dan penyebarannya oleh para pendakwah di dalam Negeri Perlis. Justeru itu Persatuan Al-Islah Perlis mengutuk tindakan melakukan shut out dan shut up terhadap para pendakwah Ahli Sunnah baik menerusi laporan polis, kenyataan akhbar, demonstrasi, ugutan, cacian, fitnah, surat layang dan segala cara yang tidak beretika untuk menakut-nakutkan mereka dalam menyampaikan ilmu yang sahih berasaskan Al-Qur’an dan Al-Sunnah.

9 Menggesa setiap pendakwah Ahlis Sunnah baik di dalam Perlis mahupun dari luarnya, untuk berpandangan jauh dan berjiwa besar dengan memperkemaskan bukan sahaja aspek intipati (substance) penyampaian dakwah masing-masing dengan penghujahan Al-Qur’an dan Al-Sunnah secara ilmiah. Bahkan para pendakwah Ahlis Sunnah hendaklah berikhtiar sedaya upaya untuk memastikan aspek pendekatan (form) penyampaian dakwah mereka diminimumkan daripada sebarang bentuk ambiguiti atau kekaburan yang dapat dimanipulasikan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab sehingga terjadinya fitnah kepada dakwah tauhid yang diberkati Allah ini.

10 Menyesali segala usaha dan tindakan yang boleh mencemarkan keharmonian dan perpaduan Umat Islam Perlis. Oleh itu Ahlis Sunnah Wal Jama’ah Al-Salafiyyah hendaklah menyatukan suara, sikap dan tindakan dalam mempertahankan kedudukan manhaj ini yang sedang diancam

11 Mengucapkan syabas kepada Sahibus Samahah Mufti Kerajaan Negeri Perlis dan kakitangan Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Perlis yang telah menunjukkan tahap profesionalisme yang boleh dibanggakan dalam menangani isu ini.

sumber : http://islahperlis.blogspot.com

Saturday, December 19, 2009

Download Pdf Bhg 2

Click Gambar Untuk Tujuan Download

Atsar-atsar dari salaf tentang Ketinggian Allah di Atas Arasy
DEMOKRASI DALAM PANDANGAN ISLAM
Hakikat Dakwah Salafiyyah
HIZBIYYAH Virus Kafir Perosak Akidah Ummat
iktikad IMAM ABU HASAN AL Asyaari berkenaan Allah Bersemayam Di Atas Arasy
ISTIWA ITU MAKLUM MAKNANYA
JAWAPAN Terhadap Tuduhan [Najd Sebagai Tempat Timbulnya Fitnah Dan Fitnah Dari Timur
KARAMAH Antara Waki Allah Dan Wali Syaitan!
Sambut tahun baru MASEHI
Syubhat Khawarij
ULAMA AHLI SUNNAH WAL JAMAAH SEPAKAT BAHAWA ALLAH BERSEMAYAM DI ATAS ARASY

p/s: Dibenarkan memperbanyakkan tulisan ini untuk tujuan dakwah

Thursday, December 17, 2009

Download Pdf Bhg 1

Klick di atas gambar dibawah untuk terus ke 4 shared untuk tujuan download

hukum menamakan Yahudi dengan Israel
hukum muzik
hukum solat Hajat Berjemaah
Niqab.. Anugerah Allah Yang Dizalimi
Tafwid.. Antara Makna Dan Kaifiat

Halaqah Dzikir: Dauroh Kenali Ilmu Akidah